Coretan

Alhamdulillah…! Tahun Baru 2021 Si Kecil Menyambut Dunia

Tahun 2020 telah berlalu, kini membuka lembaran baru di tahun 2021 dengan penuh bahagia. Bahagia karena diawal tahun baru 2021 putra pertama kami menyambut dunia.

Putra pertama kami lahir pada hari Sabtu, 02 Januari 2021 pukul 03.00 WIB. Tangisan pertamanya masih tercium aroma tahun baru. Menyambut dunia yang penuh dengan gegap gempita, dengan penuh harapan kelak menjadi anak yang berguna bagi negara dan agama, sukses dalam kehidupannya, dan berbakti kepada orang tuanya.

Rabu siang tanggal 30 Desember 2020, aku sedang asik-asiknya bekerja, tiba-tiba mendapat laporan bahwa dia mengeluarkan air kawah (air ketuban) yang lumayan cukup banyak. Namun kondisinya masih sehat-sehat saja tanpa ada keluhan sakit.

Malamnya, aku bawa ke puskesmas Karimunjawa untuk mengecek kondisi dan bagaiamana baiknya dalam proses persalinan. Di malam itu, banyak keluarga yang ikut mengantar ke puskesmas.

Sesampainya di Puskesmas, istriku di cek, kata bu Bidan masih belum apa-apa dan kondisi masih aman. Bu Bidan menyarankan agar dibawa pulang saja.

Pada malam itu juga aku bawa pulang, sesampainya di rumah, istriku mulai merasakan sakit. Di malam itu banyak yang tidur di rumah, ada mbah Ngatini, mertua, Ibuku sendiri, dan yang lainnya.

Paginya, di hari kamis, aku masih sempatkan kerja, karena kondisinya masih stabil. Dan istriku masih bisa ngepel, nyuci, dan melakukan kegiatan seperti biasa.

Malam habis maghrib, si calon Ibu muda mulai merasakan sakit, menurut orang jawa ‘nglarani’. Di malam itu juga, tepatnya malam tahun baru 2021, kami sekeluarga ramai-ramai mengantarkan istri ke puskesmas Karimunjawa yang jaraknya lumayan cukup jauh dengan kondisi jalan tak terlalu bersahabat.

Sesampainya di Puskesmas, istriku dalam keadaan berjuang demi sebuah harapan. Dia terbaring kesakitan diatas ranjang sempit. Saudara, kerabat, tetangga datang memberi support dan doa.

Dia tak lagi bisa menyapa karena sakit menguasainya. Bu Bidan memeriksa keadaannya. Namun harapan masih terlalu lama.

“Baru buka empat, ini masih lama”. Kata bu Bidan

Dalam benakku, “busyet dah, baru buka empat”.

Sekitar pukul 05.00 pagi, bu Bidan memeriksa lagi, katanya udah buka tujuh, hatiku tenang, karena sebentar lagi anakku akan lahir, dan istriku gak lama-lama merasakan sakit.

Bu Bidan yang satu masuk, dan memeriksa keadaannya

“Ini masih lama, baru buka empat kok”.

“Baru buka empat bu?” Timpalku kepada bu Bidan.

“Katanya bu Bidan yang satu udah buka tujuh”.

“Ini baru buka empat mas, masih lama ini, mbaknya sebaiknya berbaring ke kiri saja biar cepet proses lahirannya”.

Saya memberi semangat istri agar tetap bertahan dan kuat. Rasa-rasanya sang istri sudah putus asa. Namun, masih dikuatkan dengan harapan sang buah hati yang akan dilahirkannya.

Jarum jam terus saja berputar, wajah istri kulihat memelas kasihan, tapi apalah daya, hanya doa yang terus kami panjatkan sembari memberi semangat agar istri tetap kuat.

Pukul 19.30 WIB, tanggal 01 Januari 2021. Tepatnya malam sabtu, bu Bidan masuk lagi memeriksa perkembangan istri.

“Sudah buka delapan, miring ke kiri saja ya mbak, biar cepet.
Kalo bayinya ngajak ngeden, ngeden aja, tapi jangan sering-sering”.

Sampai disini aku udah agak lega, karena bentar lagi akan lahir. Setiap saat aku melihat jam yang ada di tangan kiriku. Terus saja kulihat namun belum ada tanda-tanda bu Bidan memeriksa keadaan istri.

Pukul 23.30 WIB, ibu Dukun Bayi memanggil bu Bidan

“Bu, pasiennya tolong diberi semangat bu”.

Tak lama kemudian, satu persatu bu Bidan masuk, total ada empat bu Bidan yang ada di ruangan.

Bu Bidan kemudian mengambil tindakan. Namun proses kelahirannya sedikit kesulitan. Sampai-sampai dibantu didorong oleh bu Bidan yang satu untuk memudahkan istriku mengejan.

Pukul 03.04 WIB, aku benar-benar lega, termasuk istri, saudara, kerabat, dan lainnya yang menjenguk istri juga ikut lega, karena tangisan pertama sang buah hati menyambut dunia.

Terima kasih buat semuanya, saya dengan keluarga kecilku tak bisa menyebutkan satu-persatu, hanya ucapan terima kasih yang bisa saya berikan untuk membalas kebaikan kalian semua.

Mohon maaf, saya tak tega mengambil foto selama proses persalinan, foto-foto yang ada tersebut setelah persalinan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button