Jalan-Jalan

Bayar Nazar Ke Makam Mbah Sayyid Abdullah (Sunan Legon Kluwak)

Setelah sholat shubuh, aku kembali tertidur karena badan capek banget. Tak terasa, ada suara samar-samar seolah mencoba membangunkanku.

“Ayah bangun”

Begitu kurang lebih suara yang aku dengar, mata terbuka sayup-sayup terlihat istri ada disampingku yang ternyata membangunkanku.

“Ayo ke ziarah!”. Ajak istri.

Aku terdiam sejenak mengumpulkan tenaga paska dalam tidurku, ku tengok jam yang ada di hp menunjukkan pukul 08.00 pagi. Dalam pikirku “lama juga aku tidur”.

Aku beranjak dari tempat tidurku menuju ke kamar mandi. Disini pertarungan batin dimulai, antara mandi atau hanya cuci muka. Aku terdiam dalam beberapa menit, dan keputusan harus segera diambil. Tak lama kemudian, hasil mufakat telah disepakati yang isinya cukup dengan cuci muka saja. Wkwkwkwkwkwkwk.

Setelah itu aku bergegas ganti pakaian karena udah ditinggal duluan, tinggal aku dan istri yang belum berangkat.

Ku ambil motor, ku bencengkan istri, langsung tarek sis, semongko…! Eh! Bukan, bukan itu, maksudnya tarek gas motor menuju makam Mbah Sayyid Abdullah (Sunan Legon Kluwak), begitulah kami memanggil Waliyullah di Desa Kemujan ini.

Tak butuh waktu lama, perjalanan kami udah sampai, karena memang lumayan dekat dari tempat tinggalku.

Dari kejauhan aku sedikit kaget, “Kok ada banyak kendaraan”.

Kondisi makam Mbah Sayyid Abdullah tak seperti kondisi makam wali-wali Indonesia yang masyhur yang selalu ramai dikunjungi para penziarah tiap hari. Biasanya, penziarah yang datang ke makam Mbah Sayyid Abdullah tiap hari senin dan kamis. Namun hanya satu dua orang saja.

Nah! Kebetulan aku bersama keluarga berziarah di hari kamis untuk membayar nazar (nadzar) ibu yang udah berjanji jika istriku lahir dengan selamat beserta anaknya, maka akan pergi ziarah ke makam Mbah Sayyid Abdullah.

Waktu itu dalam proses lahiran, memang istriku melahirkan lumayan kesulitan, sehingga banyak kerabat, saudara, dan orang tua sangat khawatir. Sehingga Ibuku bernazar demikian.

Di hari Kamis, Ibuku membayar nazar itu dengan berziarah ke makam Mbah Sayyid Abdullah. Dan pada saat sampai di makam, ternyata barengan dengan kelompok pengajian ibu-ibu. Jadi suasana makam tambah ramai.

Sebelum masuk ke dalam area makam, aku menyapa temen yang mengantar ibu-ibu pengajian.

“Ayo toh”. Ajakku

Nek njobo ae”. Jawab temenku

Aku lanjutkan masuk ke dalam area makam. Di dalam area makam, ibu-ibu pengajian ramai-ramai menuju tempat persinggahan sang Wali. Sementara aku dan istri nyusul keluarga di aula makam.

Namun ternyata sesampainya di aula, ayam dekem dan nasi sudah dibuka.

“Ayo makan”. Kata Ibu

“Lha kok makan, emang berdoa’nya udah selesai”. Sahutku keheranan.

“Ya udah selesai, wong kamu ditunggu gak datang-datang Nungguin kamu ya nanti berbarengan dengan rombongan itu (ibu-ibu pengajuan)”. Jawab bapak.

“Bok lhaa”. Jawabku seraya duduk nunggu nasi.

Dalam keadaan makan, juga diiringi obrolan ringan di aula. Obrolan ringan ngalor ngidul tanpa ujungnya. Juga si ponakan kecil yang jahil suasana menjadi cair dan seru.

Setelah selesai makan, kami sekeluarga pulang. Sementara ibu-ibu pengajian masih menyelesaikan doanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button