Jalan-Jalan

Kondisi Rumah Adat Karimunjawa Rusak Parah

Di Karimunjawa terdapat beberapa suku diantaranya; suku jawa, suku bugis, suku madura, suku mandar, dan suku bajo. Mereka hidup berdampingan tanpa adanya gesekan. Cerita – cerita orang – orang dulu, nenek moyang kami adalah nelayan dan petani. Mereka rata – rata pendatang, yang kemudian menetap di Karimunjawa.

Karena banyaknya suku di Karimunjawa yang multikultur ini, Pemerintah Kabupaten Jepara membangun rumah adat yang berlokasi di Pulau Kemujan atau Desa Kemujan. Karena di Desa Kemujan lah terdapat beberapa suku yaitu suku jawa, suku bugis, suku mandar, dan suku madura. Sementara di Pulau Karimunjawa terdapat suku Bajo.

Nah! Dalam beberapa hari, aku tersasa terpanggil untuk berkunjung ke rumah adat yang dibangun semasa aku belajar di MTs Safinatul Huda 02, sekitar tahun 2004.

Sehabis adzan Ashar, aku bergegas menuju rumah adat yang hanya aku tempuh lebih kurang 10 menit menggunakan sepeda motor.

Sesampainya di lokasi rumah adat, aku merasa prihatin melihat kondisinya yang berantakan tak terawat. Bangunan rumah adat bugis, yang meurupakan bangunan pertama terlihat kayunya sudah banyak yang mengelupas, pintu terbuka menandakan jika rumah adat bugis ini terbengkalai.

Aku beranikan masuk, walaupun sebenarnya aku agak takut karena itu rumah kosong dan deket sama kuburan.

Aku melihat sekitar ruangan dalam,  suasananya agak menyeramkan, mungkin karena terbawa film – film horor kali ya.

Di dalam rumah adat ini terdapat dua kamar yang lumayan cukup besar bagi saya, dilengkapi dengan dipan termasuk springbed dan kursi. Untuk kamar mandinya ada di luar.

Setelah cukup melihat – lihat isi dalam rumah adat bugis ini, aku keluar dan turun. Ketika turun aku melihat satu buah springbed di bawah rumah, yang kayaknya dari salah satu kamar karena salah satu kamar di rumah adat bugis ada yang tidak ada springbednya.

Sekarang aku berjalan ke belakang rumah adat bugis. Disini kulihat ada bangunan yang gentengnya sudah ompong. Aku melihat sekitar bangunan terutama dibagian kayu udah dimakan rayap. Sepertinya bangunan itu kayak kamar mandi atau dapur yang diperuntukkan untuk rumah adat bugis.

Disekitarnya ada sumur yang penuh dengan semak-semak. Saat aku mencoba melhat air di dalam sumur sudah tak kelihatan, karena di bagian “serumbung” sumur penuh rerumputan tebal. Namun sebenarnya, sumur tersebut masih berfungsi dengan baik dan airnya masih jernih.

Disebelahnya, terdapat bangunan kamar mandi yang dibangun hampir berbarengan dengan rumah adat bugis. Bangunannya sih masih lumayan bagus, hanya disekitarnya ditumbuhi rerumputan yang menandakan jikalau sudah mangkrak lama.

Di dalam area kamar mandi ini pun sudah seperti gudang lama, sudah tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Pokok’e ngeri deh.

Ada juga gazebo yang penuh ditongkrongin sama dedaunan. Kayunya masih bagus, kalo di poles dikit aja, haduuh, bisa ngalahin cafe. Tapi sayangnya memang gak terurus.

Di sebelah timur rumah adat bugis, ada rumah adat jawa. Kondisinya lebih mengerikan lagi. Karena gentingnya sudah doyong dan hampir roboh. Saat aku masuk ke dalam, atap langit – langitnya udah banyak yang rusak, dinding kayu yang penuh dengan ukiran indah banyak yang dimakan rayap.

Setelah cukup aku melihat – lihat isi dalam rumah adat jawa di Karimunjawa, khusunya di Kemujan, aku semakin merinding, dan kuputuskan untuk keluar dan pulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button